TAFSIR AL-QUR’AN
METODE TAFSIR AL-QUR’AN TERBAIK
Jika ada yang bertanya[a1], “Apa metode tafsir yang paling baik?”
Maka jawabannya adalah bahwa metode yang paling tepat adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an itu sendiri. Apa yang disebutkan secara ringkas di suatu tempat, dijelaskan lebih lanjut di tempat yang lain. Jika tidak dapat kamu temukan, maka hendaklah kamu berpegang kepada Sunnah, karena Sunnah merupakan penjelas bagi Al-Qur’an dan menerangkannya.
Bahkan, Imam Abū `Abdillāh Muḥammad bin Idrīs Asy-Syāfi`ī, raḥimahullāhu ta`ālā, telah berkata:
“Setiap perkara yang diputuskan oleh Rasūlullāh ﷺ, maka itu termasuk apa yang beliau pahami dari Al-Qur’an.”
Allah Ta`ala berfirman[a2]:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran agar engkau memutuskan perkara di antara manusia berdasarkan apa yang telah Allah tunjukkan kepadamu, dan janganlah engkau menjadi pembela bagi orang-orang yang berkhianat.” [An-Nisā'(4):105]
Dan Dia Ta`ala berfirman:
“Dan Kami tidak menurunkan Kitab kepadamu kecuali agar engkau menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan tentangnya, serta menjadi petunjuk dan raḥmat bagi kaum yang beriman.” [An-Naḥl(16):64]
Dan Dia Ta`ala berfirman:
“Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka berpikir.” [An-Naḥl(16):44]
Oleh karena itu, Rasūlullāh ﷺ bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi Al-Qur’ān dan yang semisal dengannya bersamanya,” yakni Sunnah.
Sunnah juga diturunkan kepada beliau melalui wahyu sebagaimana Al-Qur’an diturunkan, hanya saja Sunnah tidak dibaca sebagaimana Al-Qur’an. Imam Asy-Syāfi’ī raḥimahullāhu ta’ālā, dan para imam lainnya telah berdalil atas hal tersebut dengan banyak dalil. Namun, ini bukan tempat untuk membahas hal tersebut.
Dan maksudnya adalah bahwa engkau mencari tafsir Al-Qur’ān dari Al-Qur’ān itu sendiri[a3]. Jika engkau tidak menemukannya, maka dari Sunnah, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu`ādz ketika beliau mengutusnya ke Yaman:
“Dengan apa engkau memutuskan perkara?” Ia menjawab, “Dengan Kitābullāh.”
Beliau bertanya, “Jika engkau tidak menemukannya?” Ia menjawab, “Dengan Sunnah Rasūlullāh.”
Beliau bertanya, “Jika engkau tidak menemukannya?” Ia menjawab, “Aku akan berijtihad dengan pendapatku (ro’yī).”
Maka Rasūlullāh ﷺ memukul dadaku dan bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasūlullāh untuk melakukan apa yang diridhai Rasūlullāh.” [١]
Ḥadīts ini terdapat dalam kitab-kitab Musnad dan Sunan dengan sanad yang baik, sebagaimana telah dijelaskan pada tempatnya.
Dan ketika itu[a4], jika kita tidak menemukan tafsir dalam Al-Qur’an maupun dalam Sunnah, kita merujuk dalam hal tersebut kepada perkataan para shaḥābat. Karena mereka lebih mengetahui hal tersebut, disebabkan mereka menyaksikan berbagai petunjuk dan keadaan yang mereka miliki secara khusus, serta karena mereka memiliki pemahaman yang sempurna, ilmu yang benar, dan amal yang shāliḥ.
Terutama para `ulama’ dan pembesar mereka, seperti 4 imam khalifah yang mendapat petunjuk, para imam yang mendapat petunjuk, dan `Abdullāh bin Mas`ūd E.
IBNU MAS`ŪD DAN IBNU `ABBĀS
Imam Abū Ja`far Muḥammad bin Jarīr berkata[a5]: Telah menceritakan kepada kami Abū Kuraib, telah menceritakan kepada kami Jābir bin Nūḥ, telah menceritakan kepada kami Al-A`masy, dari Abū Adh-Dhuḥā, dari Masrūq, ia berkata: `Abdullāh, yakni Ibnu Mas`ūd, berkata:
“Demi Dzat yang tidak ada tuhan yang benar selain Dia, tidaklah ada satu ayat pun dari Kitab Allah yang turun, kecuali aku mengetahui kepada siapa ayat itu diturunkan dan di mana ayat itu diturunkan. Seandainya aku mengetahui tempat seseorang yang lebih mengetahui Kitab Allah daripada aku dan tempat itu dapat dicapai dengan kendaraan, niscaya aku akan mendatanginya.” [٢]
Dan Al-A`masy juga meriwayatkan dari Abū Wā’il, dari Ibnu Mas`ūd, ia berkata[a6]:
Dahulu, apabila seseorang dari kami mempelajari 10 ayat, ia tidak akan melewatkannya hingga mengetahui makna-maknanya dan mengamalkannya.
Dan Abū `Abdir-Raḥmān As-Sulamī berkata:
Orang-orang yang dahulu mengajarkan Al-Qur’an kepada kami telah menceritakan kepada kami bahwa mereka dahulu mempelajari Al-Qur’an dari Nabi ﷺ. Apabila mereka telah mempelajari 10 ayat, mereka tidak akan meninggalkannya hingga mereka mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya. Demikian kami mempelajari Al-Qur’an dan sekaligus mengamalkannya.
Dan di antara mereka adalah Al-Ḥabr Al-Baḥr `Abdullāh bin `Abbās[a7], sepupu Rasūlullāh ﷺ dan penerjemah Al-Qur’an, berkat doa Rasūlullāh ﷺ untuknya:
“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya ta’wil.”
Dan Ibnu Jarīr berkata: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Basysyār, dan telah menceritakan kepada kami Wakī`, telah menceritakan kepada kami Sufyān, dari Al-A`masy, dari Muslim, ia berkata: `Abdullāh, yakni Ibnu Mas`ūd, berkata:
“Sebaik-baik penerjemah Al-Qur’an adalah Ibnu `Abbās.”
Kemudian ia meriwayatkannya dari Yaḥyā bin Dāwūd, dari Isḥāq Al-Azraq, dari Sufyān, dari Al-A`masy, dari Muslim bin Shubaiḥ Abū Adh-Dhuḥā, dari Masrūq, dari Ibnu Mas`ūd bahwa ia berkata[a8]:
“Sebaik-baik penerjemah Al-Qur’an adalah Ibnu `Abbās.” [٣]
Kemudian ia meriwayatkannya dari Bundār, dari Ja`far bin `Aun, dari Al-A`masy dengan sanad yang sama. [١]
Maka[a9], ini adalah sanad yang shaḥīḥ sampai kepada Ibnu Mas`ūd bahwa ia mengucapkan ungkapan ini tentang Ibnu `Abbās. Ibnu Mas`ūd E wafat pada tahun 32, menurut pendapat yang shaḥīḥ, sedangkan `Abdullāh bin `Abbās masih hidup selama 36 tahun setelahnya. Maka, bagaimana menurutmu dengan ilmu yang ia peroleh setelah Ibnu Mas`ūd?
Al-A`masy meriwayatkan dari Abū Wā’il:
`Alī mengangkat `Abdullāh bin `Abbās sebagai penggantinya untuk memimpin musim ḥajji. Lalu ia berkhutbah kepada manusia. Dalam khutbahnya ia membaca Surah Al-Baqarah. Dalam suatu riwayat disebutkan Surah An-Nūr. Kemudian ia menafsirkannya dengan suatu tafsir yang seandainya bangsa Romawi, Turki, dan Dailam mendengarnya, niscaya mereka akan masuk Islam. [٢]
lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh
Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.
allāhu wa rosūluhu a`lam
Allah dan RasulNya lebih mengetahui.
REFERENSI
AL-QUR’ĀN
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’ān) kepadamu (Muḥammad) dengan hak agar kamu memutuskan (perkara) di antara manusia dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadamu. Janganlah engkau menjadi pembela para pengkhianat.
Kami tidak menurunkan Kitab (Al-Qur’ān) ini kepadamu (Muḥammad), kecuali agar engkau menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan serta menjadi petunjuk dan raḥmat bagi kaum yang beriman.
(Kami mengutus mereka) dengan (membawa) bukti-bukti yang jelas (mukjizat) dan kitab-kitab. Kami turunkan Adz-Dzikr (Al-ur’ān) kepadamu agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka berpikir.
AL-`ULAMĀ’
IBNU KATSIR I
فَإِنۡ قَالَ قَائِلٌ فَمَا أَحۡسَنُ طُرُقِ التَّفۡسِيرِ؟ فَالۡجَوَابُ أَنَّ أَصَحَّ الطُّرُقِ فِي ذَٰلِكَ أَنۡ يُفَسَّرَ الۡقُرۡآنُ بِالۡقُرۡآنِ، فَمَا أُجۡمِلَ فِي مَكَانٍ فَإِنَّهُ قَدۡ بُسِطَ فِي مَوۡضِعٍ آخَرَ، فَإِنۡ أَعۡيَاكَ ذَٰلِكَ فَعَلَيۡكَ بِالسُّنَّةِ، فَإِنَّهَا شَارِحَةٌ لِلۡقُرۡآنِ وَمُوَضِّحَةٌ لَهُ، بَلۡ قَدۡ قَالَ الۡإِمَامُ أَبُو عَبۡدِ اللّٰهِ مُحَمَّدُ بۡنُ إِدۡرِيسَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى: كُلُّ مَا حَكَمَ بِهِ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ فَهُوَ مِمَّا فَهِمَهُ مِنَ الۡقُرۡآنِ.
fa-in qōla qō’ilun famā aḥsanu thuruqot-tafsīri? fal-jawābu anna ashḥaḥaṭ-thuruqi fī dzālika an yufassaro al-qur’ānu bil-qur’āni, famā ujmila fī makānin fa-innahu qod busitho fī maudhi’in ākhor, fa-in a`yāka dzālika fa`alaika bis-sunnati, fa-innahā syāriḥatun lil-qur’āni wa-muwadhdhiḥatun lahū, bal qod qōlal-imāmu abū `abdillāhi muḥammadubnu idrīsa asy-syāfi`iyyu raḥimahullāhu ta`ālā: kullu mā ḥakama bihī rosūlullāhi ﷺ fa-huwa mimmā fahimahu minal-qur’āni.
Jika ada yang bertanya, “Apa metode tafsir yang paling baik?”
Maka jawabannya adalah bahwa metode yang paling tepat adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an itu sendiri. Apa yang disebutkan secara ringkas di suatu tempat, dijelaskan lebih lanjut di tempat yang lain. Jika tidak dapat kamu temukan, maka hendaklah kamu berpegang kepada Sunnah, karena Sunnah merupakan penjelas bagi Al-Qur’an dan menerangkannya.
Bahkan, Imam Abū `Abdillāh Muḥammad bin Idrīs Asy-Syāfi`ī, raḥimahullāhu ta`ālā, telah berkata:
“Setiap perkara yang diputuskan oleh Rasūlullāh ﷺ, maka itu termasuk apa yang beliau pahami dari Al-Qur’an.”
قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّا أَنۡزَلۡنَا إِلَيۡكَ الۡكِتَابَ بِالۡحَقِّ لِتَحۡكُمَ بَيۡنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللّٰهُ وَلَا تَكُنۡ لِلۡخَائِنِينَ خَصِيمًا﴾ [النِّسَاءِ:١٠٥]
وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا أَنۡزَلۡنَا عَلَيۡكَ الۡكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخۡتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحۡمَةً لِقَوۡمٍ يُؤۡمِنُونَ﴾ [النَّحۡلِ:٦٤]
وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَأَنۡزَلۡنَا إِلَيۡكَ الذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ﴾ [النَّحۡلِ:٤٤]
وَلِهَٰذَا قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: «أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الۡقُرۡآنَ وَمِثۡلَهُ مَعَهُ» يَعۡنِي السُّنَّةَ. وَالسُّنَّةُ أَيۡضًا تَنۡزِلُ عَلَيۡهِ بِالۡوَحۡيِ كَمَا يَنۡزِلُ الۡقُرۡآنُ، إِلَّا أَنَّهَا لَا تُتۡلَى كَمَا يُتۡلَى الۡقُرۡآنُ، وَقَدِ اسۡتَدَلَّ الۡإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى وَغَيۡرُهُ مِنَ الۡأَئِمَّةِ عَلَى ذَٰلِكَ بِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ، لَيۡسَ هَٰذَا مَوۡضِعَ ذَٰلِكَ.
qōlallāhu ta`ālā: ﴾innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi litaḥkuma bainan-nāsi bimā arōkallāhu wa-lā takun lil-khō’inīna khoshīmā﴿ [an-nisā’:105]
wa-qōla ta`ālā: ﴾wa-mā anzalnā `alaikal-kitāba illā litubayyina lahumul-ladzī ikhtalafū fīhi wa-hudan wa-roḥmatan liqoumin yu’minūn﴿ [an-naḥl:64]
wa-qōla ta`ālā: ﴾wa-anzalnā ilaikadz-dzikro litubayyina lin-nāsi mā nuzzila ilaihim wa-la`allahum yatafakkarūn﴿ [an-naḥl:44]
wa-lihādzā qōla rosūlullāhi ﷺ: «alā innī ūtītul-qur’āna wa-mitslahū ma`ahu» ya`nī as-sunnata. was-sunnatu aidhon tanzilu `alaihi bil-waḥyi kamā yanzilul-qur’ānu illā annahā lā tutlā kamā yutlā al-qur’ānu, wa-qod istadalla al-imāmu asy-syāfi`iyyu roḥimahullāhu ta`ālā wa-ghoiruhū minal-a’immati `alā dzālika bi-adillatin katsīrotin, laisa hādzā maudhi`a dzālika.
Allah Ta`ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran agar engkau memutuskan perkara di antara manusia berdasarkan apa yang telah Allah tunjukkan kepadamu, dan janganlah engkau menjadi pembela bagi orang-orang yang berkhianat.” [An-Nisā’:105]
Dan Dia Ta`ala berfirman:
“Dan Kami tidak menurunkan Kitab kepadamu kecuali agar engkau menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan tentangnya, serta menjadi petunjuk dan raḥmat bagi kaum yang beriman.” [An-Naḥl:64]
Dan Dia Ta`ala berfirman:
“Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka berpikir.” [An-Naḥl:44]
Oleh karena itu, Rasūlullāh ﷺ bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberi Al-Qur’ān dan yang semisal dengannya bersamanya,” yakni Sunnah.
Sunnah juga diturunkan kepada beliau melalui wahyu sebagaimana Al-Qur’an diturunkan, hanya saja Sunnah tidak dibaca sebagaimana Al-Qur’an. Imam Asy-Syāfi’ī raḥimahullāhu ta’ālā, dan para imam lainnya telah berdalil atas hal tersebut dengan banyak dalil. Namun, ini bukan tempat untuk membahas hal tersebut.
وَالۡغَرَضُ أَنَّكَ تَطۡلُبُ تَفۡسِيرَ الۡقُرۡآنِ مِنۡهُ، فَإِنۡ لَمۡ تَجِدۡهُ فَمِنَ السُّنَّةِ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ لِمُعَاذٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الۡيَمَنِ: «فَبِمَ تَحۡكُمُ؟ قَالَ: بِكِتَابِ اللّٰهِ. قَالَ: فَإِنۡ لَمۡ تَجِدۡ؟ قَالَ: بِسُنَّةِ رَسُولِ اللّٰهِ، قَالَ: فَإِنۡ لَمۡ تَجِدۡ؟ قَالَ: أَجۡتَهِدُ رَأۡيِي، قَالَ: فَضَرَبَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ فِي صَدۡرِي وَقَالَ: الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللّٰهِ لِمَا يُرۡضِي رَسُولَ اللّٰهِ» [١] وَهَٰذَا الۡحَدِيثُ فِي الۡمَسَانِدِ وَالسُّنَنِ بِإِسۡنَادٍ جَيِّدٍ كَمَا هُوَ مُقَرَّرٌ فِي مَوۡضِعِهِ.
wal-ghorodhu annaka tathlubu tafsīrol-qur’āni minhu, fa-in lam tajidhu fa-minas-sunnati kamā qōla rosūlullāhi ﷺ li-mu`ādzin ḥīna ba`atsahu ilal-yamani: «fa-bima taḥkumu? qōla: bi-kitābillāhi. qōla: fa-in lam tajid? qōla: bi-sunnati rosūlillāhi, qōla: fa-in lam tajid? qōla: ajtahidu ro’yī, qōla: fa-dhoroba rosūlullāhi ﷺ fī shodrī wa-qōla: al-ḥamdu lillāhilladzī waffaqo rosūla rosūlillāhi limā yurdhī rosūlallāhi» [١] wa-hādzal-ḥadītsu fil-masānidi was-sunani bi-isnādin jayyidin kamā huwa muqorrorun fī maudhi`ihi.
Dan maksudnya adalah bahwa engkau mencari tafsir Al-Qur’ān dari Al-Qur’ān itu sendiri. Jika engkau tidak menemukannya, maka dari Sunnah, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu`ādz ketika beliau mengutusnya ke Yaman:
“Dengan apa engkau memutuskan perkara?” Ia menjawab, “Dengan Kitābullāh.”
Beliau bertanya, “Jika engkau tidak menemukannya?” Ia menjawab, “Dengan Sunnah Rasūlullāh.”
Beliau bertanya, “Jika engkau tidak menemukannya?” Ia menjawab, “Aku akan berijtihad dengan pendapatku (ro’yī).”
Maka Rasūlullāh ﷺ memukul dadaku dan bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasūlullāh untuk melakukan apa yang diridhai Rasūlullāh.” [١]
Ḥadīts ini terdapat dalam kitab-kitab Musnad dan Sunan dengan sanad yang baik, sebagaimana telah dijelaskan pada tempatnya.
Diriwayatkan oleh Imām Aḥmad dalam Al-Musnad (jilid 5, hlm. 230, 236, 242), dari ḥadīts Mu`ādz bin Jabal.
وَحِينَئِذٍ إِذَا لَمۡ نَجِدِ التَّفۡسِيرَ فِي الۡقُرۡآنِ وَلَا فِي السُّنَّةِ رَجَعۡنَا فِي ذَٰلِكَ إِلَى أَقۡوَالِ الصَّحَابَةِ، فَإِنَّهُمۡ أَدۡرَى بِذَٰلِكَ لِمَا شَاهَدُوا مِنَ الۡقَرَائِنِ وَالۡأَحۡوَالِ الَّتِي اخۡتَصُّوا بِهَا، وَلِمَا لَهُمۡ مِنَ الۡفَهۡمِ التَّامِّ وَالۡعِلۡمِ الصَّحِيحِ وَالۡعَمَلِ الصَّالِحِ، لَا سِيَّمَا عُلَمَاؤُهُمۡ وَكُبَرَاؤُهُمۡ كَالۡأَئِمَّةِ الۡأَرۡبَعَةِ الۡخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، وَالۡأَئِمَّةِ الۡمَهۡدِيِّينَ، وَعَبۡدِ اللّٰهِ بۡنِ مَسۡعُودٍ E.
wa-ḥīna’idzin idzā lam najidit-tafsīro fil-qur’āni wa-lā fis-sunnati roja`nā fī dzālika ilā aqwāsh-shoḥābati, fa-innahum adrō bi-dzālika limā syāhadū minal-qorō’ini wal-aḥwālil-latī ikhtashshū bihā, wa-limā lahum minal-fahmit-tāmmi wal-`ilmish-shoḥīḥi wal-`amalish-shōliḥi, lā siyyamā `ulamā’uhum wa-kubarō’uhum kal-a’immatil-arba`atil-khulafā’ir-rōsyidīna, wal-a’immatil-mahdiyyīna, wa-`abdillāhi ibnu mas`ūdin E.
Dan ketika itu, jika kita tidak menemukan tafsir dalam Al-Qur’an maupun dalam Sunnah, kita merujuk dalam hal tersebut kepada perkataan para shaḥābat. Karena mereka lebih mengetahui hal tersebut, disebabkan mereka menyaksikan berbagai petunjuk dan keadaan yang mereka miliki secara khusus, serta karena mereka memiliki pemahaman yang sempurna, ilmu yang benar, dan amal yang shāliḥ. Terutama para `ulama’ dan pembesar mereka, seperti 4 imam khalifah yang mendapat petunjuk, para imam yang mendapat petunjuk, dan `Abdullāh bin Mas`ūd E.
قَالَ الۡإِمَامُ أَبُو جَعۡفَرٍ مُحَمَّدُ بۡنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيۡبٍ، حَدَّثَنَا جَابِرُ بۡنُ نُوحٍ، حَدَّثَنَا الۡأَعۡمَشُ، عَنۡ أَبِي الضُّحَى، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، قَالَ: قَالَ عَبۡدُ اللّٰهِ يَعۡنِي ابۡنَ مَسۡعُودٍ: وَالَّذِي لَا إِلَٰهَ غَيۡرُهُ، مَا نَزَلَتۡ آيَةٌ مِنۡ كِتَابِ اللّٰهِ إِلَّا وَأَنَا أَعۡلَمُ فِيمَنۡ نَزَلَتۡ، وَأَيۡنَ نَزَلَتۡ. وَلَوۡ أَعۡلَمُ مَكَانَ أَحَدٍ أَعۡلَمَ بِكِتَابِ اللّٰهِ مِنِّي تَنَالُهُ الۡمَطَايَا لَأَتَيۡتُهُ [٢].
qōlal-imāmu abū ja`farin muḥammad ibnu jarīr: ḥaddatsanā abū kuroibin, ḥaddatsanā jābir ibnu nūḥin, ḥaddatsana al-a`masyu, `an abid-dhuḥā, `an masrūqin, qōla: qōla `abdullāhu ya`nī ibna mas`ūd: walladzī lā ilāha ghoiruhu, mā nazalat āyatun min kitābillāhi illā wa-anā a`lamu fīman nazalat, wa-aina nazalat. wa-lau a`lamu makāna aḥadin a`lamu bikitābillāhi minnī tanāluhul-mathōyā la-ataituhu [٢].
Imam Abū Ja`far Muḥammad bin Jarīr berkata: Telah menceritakan kepada kami Abū Kuraib, telah menceritakan kepada kami Jābir bin Nūḥ, telah menceritakan kepada kami Al-A`masy, dari Abū Adh-Dhuḥā, dari Masrūq, ia berkata: `Abdullāh, yakni Ibnu Mas`ūd, berkata:
“Demi Dzat yang tidak ada tuhan yang benar selain Dia, tidaklah ada satu ayat pun dari Kitab Allah yang turun, kecuali aku mengetahui kepada siapa ayat itu diturunkan dan di mana ayat itu diturunkan. Seandainya aku mengetahui tempat seseorang yang lebih mengetahui Kitab Allah daripada aku dan tempat itu dapat dicapai dengan kendaraan, niscaya aku akan mendatanginya.” [٢]
Tafsīr Ath-Thabarī, 1/60. Di dalamnya tertulis فيم نزلت sebagai ganti dari فيمن نزلت.
وَقَالَ الۡأَعۡمَشُ أَيۡضًا عَنۡ أَبِي وَائِلٍ عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ قَالَ: كَانَ الرَّجُلُ مِنَّا إِذَا تَعَلَّمَ عَشۡرَ آيَاتٍ لَمۡ يُجَاوِزۡهُنَّ حَتَّى يَعۡرِفَ مَعَانِيَهُنَّ وَالۡعَمَلَ بِهِنَّ.
وَقَالَ أَبُو عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ السُّلَمِيُّ: حَدَّثَنَا الَّذِينَ كَانُوا يُقۡرِئُونَنَا أَنَّهُمۡ كَانُوا يَسۡتَقۡرِئُونَ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ، فَكَانُوا إِذَا تَعَلَّمُوا عَشۡرَ آيَاتٍ لَمۡ يُخَلِّفُوهَا حَتَّى يَعۡمَلُوا بِمَا فِيهَا مِنَ الۡعَمَلِ، فَتَعَلَّمۡنَا الۡقُرۡآنَ وَالۡعَمَلَ جَمِيعًا.
wa-qōlal-a`masyu aidhon `an abī wā’ilin `an ibni mas`ūdin qōla: kānar-rojulu minnā idzā ta`allama `asyro āyātin lam yujāwizhunna ḥattā ya`rifa ma`ānīyahunnal-`amala bihinna.
wa-qōla abū `abdir-roḥmānis-sulamiyyu: ḥaddatsanalladzīna kānū yuqri’ūnanā annahum kānū yastaqri’ūna minan-nabiyyi ﷺ, fa-kānū idzā ta`allamū `asyro āyātin lam yukhol-lifūhā ḥattā ya`malū bimā fīhā minal-`amali, fa-ta`allamnā al-qur’āna wal-`amala jamī`an.
Dan Al-A`masy juga meriwayatkan dari Abū Wā’il, dari Ibnu Mas`ūd, ia berkata:
Dahulu, apabila seseorang dari kami mempelajari 10 ayat, ia tidak akan melewatkannya hingga mengetahui makna-maknanya dan mengamalkannya.
Dan Abū `Abdir-Raḥmān As-Sulamī berkata:
Orang-orang yang dahulu mengajarkan Al-Qur’an kepada kami telah menceritakan kepada kami bahwa mereka dahulu mempelajari Al-Qur’an dari Nabi ﷺ. Apabila mereka telah mempelajari 10 ayat, mereka tidak akan meninggalkannya hingga mereka mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya. Demikian kami mempelajari Al-Qur’an dan sekaligus mengamalkannya.
وَمِنۡهُمُ الۡحَبۡرُ الۡبَحۡرُ عَبۡدُ اللّٰهِ بۡنُ عَبَّاسٍ ابۡنُ عَمِّ رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ، وَتَرۡجُمَانُ الۡقُرۡآنِ بِبَرَكَةِ دُعَاءِ رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ لَهُ، حَيۡثُ قَالَ: «اللّٰهُمَّ فَقِّهۡهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمۡهُ التَّأۡوِيلَ».
وَقَالَ ابۡنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بۡنُ بَشَّارٍ، وَحَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا سُفۡيَانُ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ مُسۡلِمٍ، قَالَ: قَالَ عَبۡدُ اللّٰهِ يَعۡنِي ابۡنَ مَسۡعُودٍ: نِعۡمَ تَرۡجُمَانُ الۡقُرۡآنِ ابۡنُ عَبَّاسٍ.
wa-minhumul-ḥabru al-baḥru `abdullāh ibnu `abbāsin ibnu `ammi rosūlillāhi ﷺ, wa-tarjumānul-qur’āni bi-barokati du`ā’i rosūlillāhi ﷺ lahu, ḥaitsu qōla: «allāhumma faqqihhu fid-dīni wa-`allimhut-ta’wīla».
wa-qōla ibnu jarīrin: ḥaddatsanā muḥammad ibnu basysyārin, wa-ḥaddatsanā wakī`un, ḥaddatsanā sufyānu, `anil-a`masyi, `an muslimin, qōla: qōla `abdullāhu ya`nī ibna mas`ūdin: ni`ma tarjumānul-qur’āni ibnu `abbāsin.
Dan di antara mereka adalah Al-Ḥabr Al-Baḥr `Abdullāh bin `Abbās, sepupu Rasūlullāh ﷺ dan penerjemah Al-Qur’an, berkat doa Rasūlullāh ﷺ untuknya:
“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya ta’wil.”
Dan Ibnu Jarīr berkata: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin Basysyār, dan telah menceritakan kepada kami Wakī`, telah menceritakan kepada kami Sufyān, dari Al-A`masy, dari Muslim, ia berkata: `Abdullāh, yakni Ibnu Mas`ūd, berkata:
“Sebaik-baik penerjemah Al-Qur’an adalah Ibnu `Abbās.”
ثُمَّ رَوَاهُ عَنۡ يَحۡيَى بۡنِ دَاوُدَ، عَنۡ إِسۡحَاقَ الۡأَزۡرَقِ، عَنۡ سُفۡيَانَ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ، عَنۡ مُسۡلِمِ بۡنِ صُبَيۡحٍ أَبِي الضُّحَى، عَنۡ مَسۡرُوقٍ، عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ أَنَّهُ قَالَ: نِعۡمَ التَّرۡجُمَانُ لِلۡقُرۡآنِ [٣] ابۡنُ عَبَّاسٍ. ثُمَّ رَوَاهُ عَنۡ بَنۡدَارٍ، عَنۡ جَعۡفَرِ بۡنِ عَوۡنٍ، عَنِ الۡأَعۡمَشِ بِهِ كَذَٰلِكَ [١].
tsumma rowāhu `an yaḥyā ibni dāwūda, `an isḥāqo al-azroqi, `an sufyāna, `anil-a`masyi, `an muslimi ibni shubaiḥin abid-dhuḥā, `an masrūqo, `an ibni mas`ūdin annahū qōla: ni`mat-tarjumānu lil-qur’āni [٣] ibnu `abbāsin. tsumma rowāhu `an bandāro, `an ja`fari ibni `aunin, `anil-a`masyi bihī kadzālika [١].
Kemudian ia meriwayatkannya dari Yaḥyā bin Dāwūd, dari Isḥāq Al-Azraq, dari Sufyān, dari Al-A`masy, dari Muslim bin Shubaiḥ Abū Adh-Dhuḥā, dari Masrūq, dari Ibnu Mas`ūd bahwa ia berkata:
“Sebaik-baik penerjemah Al-Qur’an adalah Ibnu `Abbās.” [٣]
Kemudian ia meriwayatkannya dari Bundār, dari Ja`far bin `Aun, dari Al-A`masy dengan sanad yang sama. [١]
Dalam Ath-Thabarī, 1/65: نعم ترجمان القرآن, yaitu berdasarkan teks ḥadīts yang sebelumnya.
[١]
Dalam Ath-Thabarī, 1/65: “Dan telah menceritakan kepadaku Muḥammad bin Basysyār, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ja`far bin `Aun, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-A`masy, dari Abū Adh-Dhuḥā, dari Masrūq, dari `Abdullāh, dengan redaksi yang semisal dengannya.”
فَهَٰذَا إِسۡنَادٌ صَحِيحٌ إِلَى ابۡنِ مَسۡعُودٍ أَنَّهُ قَالَ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ هَٰذِهِ الۡعِبَارَةَ. وَقَدۡ مَاتَ ابۡنُ مَسۡعُودٍ E فِي سَنَةِ اثۡنَتَيۡنِ وَثَلَاثِينَ عَلَى الصَّحِيحِ، وَعَمَّرَ بَعۡدَهُ عَبۡدُ اللّٰهِ بۡنُ عَبَّاسٍ سِتًّا وَثَلَاثِينَ سَنَةً، فَمَا ظَنُّكَ بِمَا كَسَبَهُ مِنَ الۡعُلُومِ بَعۡدَ ابۡنِ مَسۡعُودٍ.
وَقَالَ الۡأَعۡمَشُ عَنۡ أَبِي وَائِلٍ:
اسۡتَخۡلَفَ عَلِيٌّ عَبۡدَ اللّٰهِ بۡنَ عَبَّاسٍ عَلَى الۡمَوۡسِمِ، فَخَطَبَ النَّاسَ، فَقَرَأَ فِي خُطۡبَتِهِ سُورَةَ الۡبَقَرَةِ، وَفِي رِوَايَةٍ سُورَةَ النُّورِ، فَفَسَّرَهَا تَفۡسِيرًا لَوۡ سَمِعَتۡهُ الرُّومُ وَالتُّرۡكُ وَالدَّيۡلَمُ لَأَسۡلَمُوا [٢].
fa-hādzā isnādun shoḥīḥun ilā ibni mas`ūdin annahū qōla `an ibni `abbāsin hādzihil-`ibārota. wa-qod māta ibnu mas`ūdin E fī sanati itsnataini wa-tsalātsīna `alash-shoḥīḥi wa-`ammaro ba`dahū `abdullāhu ibnu `abbāsin sittan wa-tsalātsīna sanatan, fa-mā zhonnuka bimā kasabahu minal-`ulūmi ba`da ibni mas`ūd.
wa-qōlal-a`masyu `an abī wā’ilin: istakhlafa `aliyyun `abdallāha ibna `abbāsin `alal-mausimi, fa-khothoban-nāsa, fa-qoro’a fī khuthbatihī sūrotal-baqoroti, wa-fī riwāyatin sūrat an-nūri, fa-fassarhā tafsīron lau sami`athur-rūmu wat-turku wad-dailamu la-aslamū [٢].
Maka, ini adalah sanad yang shaḥīḥ sampai kepada Ibnu Mas`ūd bahwa ia mengucapkan ungkapan ini tentang Ibnu `Abbās. Ibnu Mas`ūd E wafat pada tahun 32, menurut pendapat yang shaḥīḥ, sedangkan `Abdullāh bin `Abbās masih hidup selama 36 tahun setelahnya. Maka, bagaimana menurutmu dengan ilmu yang ia peroleh setelah Ibnu Mas`ūd?
Al-A`masy meriwayatkan dari Abū Wā’il:
`Alī mengangkat `Abdullāh bin `Abbās sebagai penggantinya untuk memimpin musim ḥajji. Lalu ia berkhutbah kepada manusia. Dalam khutbahnya ia membaca Surah Al-Baqarah. Dalam suatu riwayat disebutkan Surah An-Nūr. Kemudian ia menafsirkannya dengan suatu tafsir yang seandainya bangsa Romawi, Turki, dan Dailam mendengarnya, niscaya mereka akan masuk Islam. [٢]
Bandingkan dengan Ath-Thabarī, 1/60.