RIWAYAT ISRAILIYYAT

MENYAMPAIKAN RIWAYAT ISRAILIYYAT

Oleh karena itu[a1], sebagian besar riwayat yang disampaikan Ismā`īl bin `Abdur-Raḥmān As-Suddī Al-Kabīr dalam tafsirnya berasal dari kedua orang ini, yaitu Ibnu Mas`ūd dan Ibnu `Abbās.

Akan tetapi, terkadang ia menukil dari mereka apa yang mereka ceritakan berupa perkataan-perkataan Ahli Kitab yang dibolehkan oleh Rasūlullāh ﷺ, ketika beliau bersabda:

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah dari Bani Israil, tidak ada dosa. Dan barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”


Diriwayatkan oleh Al-Bukhārī [٣] dari `Abdullāh bin `Amr.

Oleh karena itu, `Abdullāh bin `Amr E pernah memperoleh pada hari Perang Yarmuk 2 buah muatan besar [٤] berupa kitab-kitab Ahli Kitab. Ia pun meriwayatkan dari kedua kitab tersebut berdasarkan apa yang ia pahami dari ḥadīts ini mengenai kebolehan melakukan hal tersebut.

Akan tetapi[a2], ḥadīts-ḥadīts Israiliyyat ini disebutkan untuk istisyhād (pembanding), bukan untuk i`tidhād (penguat). Karena ḥadīts-ḥadīts tersebut terbagi menjadi tiga bagian:

Pertama, apa yang telah kita ketahui kebenarannya berdasarkan apa yang ada pada kita, yang menjadi saksi atas kebenarannya, maka itulah yang benar.

Kedua, apa yang telah kita ketahui kedustaannya berdasarkan yang bertentangan dengan apa yang ada pada kita.

Ketiga, apa yang tidak ada penjelasannya, tidak yang pertama dan tidak pula yang kedua. Maka kita tidak membenarkannya dan tidak pula mendustakannya, dan boleh meriwayatkannya berdasarkan apa yang telah disebutkan sebelumnya.

Dan sebagian besar darinya tidak memiliki faedah yang kembali kepada perkara agama.

Oleh karena itu[a3], para ulama Ahli Kitab banyak berselisih mengenai hal ini. Dari kalangan para mufassir pun muncul perselisihan disebabkan hal tersebut. Sebagaimana mereka menyebutkan dalam perkara semacam ini nama-nama para penghuni gua, warna anjing mereka, jumlah mereka, dari pohon apa tongkat Musa berasal, nama-nama burung yang Allah hidupkan kembali untuk Ibrāhīm, bagian tertentu dari sapi betina yang digunakan untuk memukul orang yang sudah mati (hidup kembali), jenis pohon yang Allah berbicara kepada Musa darinya, dan selain itu dari perkara-perkara yang Allah Ta`ala samarkan dalam Al-Qur’ān, yang detailnya tidak ada faedah untuk orang-orang mukallaf, baik dalam agama maupun dunia mereka.

Akan tetapi[a4], menyampaikan perselisihan pendapat yang dinukil dari mereka mengenai hal tersebut adalah diperbolehkan, sebagaimana Allah Ta`ala berfirman:

Mereka akan berkata, “Mereka itu tiga orang, yang keempat adalah anjing mereka.” Dan mereka berkata, “Mereka itu lima orang, yang keenam adalah anjing mereka,” sebagai bentuk menerka-nerka perkara ghaib. Dan mereka berkata, “Mereka itu tujuh orang, dan yang kedelapan adalah anjing mereka.”

Katakanlah, “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali sedikit.” Maka janganlah engkau memperdebatkan tentang mereka kecuali dengan perdebatan yang lahiriah, dan janganlah engkau meminta fatwa mengenai mereka kepada seorang pun dari mereka. [Al-Kahfi(18):22]

Ayat yang mulia ini telah mencakup adab dalam perkara ini dan mengajarkan apa yang semestinya dilakukan dalam perkara semacam ini[a5]. Sesungguhnya Dia Ta`ala mengabarkan tentang mereka dengan 3 pendapat. Dia melemahkan 2 pendapat yang pertama, dan diam terhadap pendapat yang ketiga, sehingga hal itu menunjukkan kebenarannya. Sebab, seandainya pendapat itu bāthil, niscaya Dia akan membantahnya sebagaimana Dia membantah kedua pendapat sebelumnya.

Kemudian Dia memberikan petunjuk bahwa mengetahui jumlah mereka tidak memiliki manfaat yang berarti. Maka Dia berfirman dalam perkara semacam ini:

Katakanlah, “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka”.

Sebab, tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali sedikit dari manusia, yaitu orang-orang yang Allah memperlihatkan pengetahuan tersebut kepadanya.

Oleh karena itu, Dia berfirman,

Maka janganlah engkau memperdebatkan tentang mereka kecuali dengan perdebatan yang lahiriah,

yakni janganlah engkau memaksakan dirimu dalam perkara yang tidak memiliki manfaat yang berarti, dan janganlah engkau bertanya kepada mereka tentang hal itu, karena mereka tidak mengetahui mengenai hal tersebut kecuali dengan menerka-nerka perkara ghaib.

PENYELESAIAN PERSELISIHAN PENDAPAT

Maka inilah cara yang paling baik dalam menyebutkan perselisihan pendapat[a6]: engkau mencakup seluruh pendapat dalam perkara tersebut, menjelaskan mana yang benar diantaranya, membatalkan yang bāthil, serta menyebutkan manfaat dan hasil dari perselisihan tersebut, agar perdebatan dan perselisihan tidak menjadi panjang dalam perkara yang tidak memiliki manfaat, sehingga engkau tersibukkan dengannya dari perkara-perkara yang lebih penting.

Adapun[a7] orang yang menyebutkan suatu perselisihan pendapat dalam sebuah masalah, tetapi tidak mencakup seluruh pendapat manusia dalam masalah tersebut, maka ia kurang sempurna, karena bisa jadi kebenaran terdapat pada pendapat yang ia tinggalkan.

Atau ia menyebutkan perselisihan pendapat dan membiarkannya begitu saja tanpa menjelaskan mana pendapat yang benar, maka ia juga kurang sempurna. Jika ia sengaja membenarkan pendapat yang tidak benar, berarti ia sengaja berdusta. Atau jika karena ketidaktahuan, maka ia telah melakukan kesalahan.

Demikian pula orang yang mengemukakan perselisihan dalam perkara yang tidak memiliki manfaat, atau menyebutkan beberapa pendapat secara lafaz, sementara hakikat maknanya kembali kepada satu atau dua pendapat, maka ia telah menyia-nyiakan waktu dan memperbanyak sesuatu yang tidak benar. Maka ia seperti orang yang mengenakan 2 pakaian kepalsuan. Dan Allah-lah yang memberikan taufik kepada kebenaran.

lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh
Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.

allāhu wa rosūluhu a`lam
Allah dan RasulNya lebih mengetahui.

REFERENSI

AL-QUR’ĀN


QS. Al-Kahfi (18) : 22
سَيَقُولُونَ ثَلَٰثَةٞ رَّابِعُهُمۡ كَلۡبُهُمۡ وَيَقُولُونَ خَمۡسَةٞ سَادِسُهُمۡ كَلۡبُهُمۡ رَجۡمَۢا بِالۡغَيۡبِۖ وَيَقُولُونَ سَبۡعَةٞ وَثَامِنُهُمۡ كَلۡبُهُمۡۚ قُل رَّبِّيٓ أَعۡلَمُ بِعِدَّتِهِم مَّا يَعۡلَمُهُمۡ إِلَّا قَلِيلٞۗ فَلَا تُمَارِ فِيهِمۡ إِلَّا مِرَآءٗ ظَٰهِرٗا وَلَا تَسۡتَفۡتِ فِيهِم مِّنۡهُمۡ أَحَدٗا٢٢
sayaqūlūna tsalātsatur rōbi`uhum kalbuhum, wa yaqūlūna khomsatun sādisuhum kalbuhum rojmam bil-ghoib(i), wa yaqūlūna sab`atuw wa tsāminuhum kalbuhum, qur robbī a`lamu bi`iddatihim mā ya`lamuhum illā qolīl(un), falā tumāri fīhim illā mirō’an zhōhirō(n), wa lā tastafti fīhim minhum aḥadā(n)

Kelak (sebagian orang) mengatakan, “(Jumlah mereka) tiga (orang). Yang keempat adalah anjingnya.” (Sebagian lain) mengatakan, “(Jumlah mereka) lima (orang). Yang keenam adalah anjingnya,” sebagai terkaan terhadap yang ghaib. (Sebagian lain lagi) mengatakan, “(Jumlah mereka) tujuh (orang). Yang kedelapan adalah anjingnya.” Katakanlah, “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka. Tidak ada yang mengetahui (jumlah) mereka kecuali sedikit.” Oleh karena itu, janganlah engkau berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan yang jelas-jelas saja (ringan). Janganlah engkau minta penjelasan tentang mereka (penghuni gua itu) kepada siapa pun dari mereka (Ahli Kitab).

AL-`ULAMĀ’

IBNU KATSIR I

Tafsir Ibnu Katsir
(تفسير ابن كثير – ط العلمية)
Hal. 10 Edisi `Alamiyyah

وَلِهَٰذَا غَالِبُ مَا يَرۡوِيهِ إِسۡمَاعِيلُ بۡنُ عَبۡدِ الرَّحۡمَنِ السُّدِّيُّ الۡكَبِيرُ فِي تَفۡسِيرِهِ عَنۡ هَٰذَيۡنِ الرَّجُلَيۡنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ وَابۡنِ عَبَّاسٍ، وَلَٰكِنۡ فِي بَعۡضِ الۡأَحۡيَانِ يَنۡقُلُ عَنۡهُمۡ مَا يَحۡكُونَهُ مِنۡ أَقَاوِيلِ أَهۡلِ الۡكِتَابِ الَّتِي أَبَاحَهَا رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ حَيۡثُ قَالَ: «بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوۡ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنۡ بَنِي إِسۡرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنۡ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلۡيَتَبَوَّأۡ مَقۡعَدَهُ مِنَ النَّارِ» رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ [٣] عَنۡ عَبۡدِ اللّٰهِ بۡنِ عَمۡرٍو، لِهَٰذَا كَانَ عَبۡدُ اللّٰهِ بۡنُ عَمۡرٍو E قَدۡ أَصَابَ يَوۡمَ الۡيَرۡمُوكِ زَامِلَتَيۡنِ [٤] مِنۡ كُتُبِ أَهۡلِ الۡكِتَابِ، فَكَانَ يُحَدِّثُ مِنۡهُمَا بِمَا فَهِمَهُ مِنۡ هَٰذَا الۡحَدِيثِ مِنَ الۡإِذۡنِ فِي ذَٰلِكَ.

wa-lihādzā ghōlibu mā yarwīhi isma`īlu ibnu `abdir-roḥmānis-suddiyyul-kabīru fī tafsīrihi `an hādzainir-rojulaini ibni mas`ūdin wa-ibni `abbāsin, wa-lākin fī ba`dhil-aḥyāni yanqulu `anhum mā yaḥkūnahū min aqōwīli ahlil-kitābillatī abāḥahā rosūlullāhi ﷺ ḥaitsu qōla: «ballighū `annī wa-lau āyatan wa-ḥadditsū `an banī isrō’īla wa-lā ḥaroja, wa-man kadzaba `alayya muta`ammidan falyatabawwa’ maq`adahū minan-nār» rowāhul-bukhōriyyu [٣] `an `abdillāhi ibni `amrin, li-hādzā kāna `abdullāhi ibnu `amrin E qod ashōba yaumal-yarmūki zāmilataini [٤] min kutubi ahlil-kitābi, fa-kāna yuḥadditsu minhumā bimā fahimahū min hādzal-ḥadītsi minal-idzni fī dzālik.

Oleh karena itu, sebagian besar riwayat yang disampaikan Ismā`īl bin `Abdur-Raḥmān As-Suddī Al-Kabīr dalam tafsirnya berasal dari kedua orang ini, yaitu Ibnu Mas`ūd dan Ibnu `Abbās.

Akan tetapi, terkadang ia menukil dari mereka apa yang mereka ceritakan berupa perkataan-perkataan Ahli Kitab yang dibolehkan oleh Rasūlullāh ﷺ, ketika beliau bersabda:

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah dari Bani Israil, tidak ada dosa. Dan barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”


Diriwayatkan oleh Al-Bukhārī [٣] dari `Abdullāh bin `Amr.

Oleh karena itu, `Abdullāh bin `Amr E pernah memperoleh pada hari Perang Yarmuk 2 buah muatan besar [٤] berupa kitab-kitab Ahli Kitab. Ia pun meriwayatkan dari kedua kitab tersebut berdasarkan apa yang ia pahami dari ḥadīts ini mengenai kebolehan melakukan hal tersebut.

[٣]
Shaḥīḥ Al-Bukhārī (Kitāb Al-`Ilm, bab 38; Kitāb Al-Janā’iz, bab 22; Kitāb Al-Manāqib, bab 5; Kitāb Al-Anbiyā’, bab 50; Kitāb Al-Adab, bab 109).

[٤]
Az-Zāmilah: sesuatu yang digunakan untuk membawa muatan, berupa unta dan selainnya.


Tafsir Ibnu Katsir
(تفسير ابن كثير – ط العلمية)
Hal. 10 Edisi `Alamiyyah
وَلَٰكِنۡ هَٰذِهِ الۡأَحَادِيثُ الۡإِسۡرَائِيلِيَّةُ تُذۡكَرُ لِلۡاِسۡتِشۡهَادِ لَا لِلۡاِعۡتِضَادِ، فَإِنَّهَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَقۡسَامٍ: أَحَدُهَا مَا عَلِمۡنَا صِحَّتَهُ مِمَّا بِأَيۡدِينَا مِمَّا يَشۡهَدُ لَهُ بِالصِّدۡقِ فَذَاكَ صَحِيحٌ، وَالثَّانِي مَا عَلِمۡنَا كَذِبَهُ بِمَا عِنۡدَنَا مِمَّا يُخَالِفُهُ، وَالثَّالِثُ مَا هُوَ مَسۡكُوتٌ عَنۡهُ لَا مِنۡ هَٰذَا الۡقَبِيلِ وَلَا مِنۡ هَٰذَا الۡقَبِيلِ، فَلَا نُؤۡمِنُ بِهِ وَلَا نُكَذِّبُهُ، وَيَجُوزُ حِكَايَتُهُ لِمَا تَقَدَّمَ، وَغَالِبُ ذَٰلِكَ مِمَّا لَا فَائِدَةَ فِيهِ تَعُودُ إِلَى أَمۡرٍ دِينِيٍّ.

wa-lākina hādzihil-aḥādītsul-isrō’īliyyatu tudzkaru lil-istisyhādi lā lil-i`tidhōdi, fa-innahā `alā tsalātsati aqsāmin: aḥaduhā mā `alimnā shiḥḥatahu mimmā bi-aidīnā mimmā yasyhadu lahū bish-shidqi fa-dzāka shoḥīḥun, wats-tsānī mā `alimnā kadzibahu bimā `indanā mimmā yukhōlifuhu, wats-tsālitsu mā huwa maskūtun `anhu lā min hādzal-qobīli wa-lā min hādzal-qobīli fa-lā nu’minu bihī wa-lā nukadzdzibuhu, wa-yajūzu ḥikāyatuhu limā taqoddama, wa-ghōlibu dzālika mimmā lā fā’idata fīhi ta`ūdu ilā amrin dīniyyin.

Akan tetapi, ḥadīts-ḥadīts Israiliyyat ini disebutkan untuk istisyhād (pembanding), bukan untuk i`tidhād (penguat). Karena ḥadīts-ḥadīts tersebut terbagi menjadi tiga bagian:

Pertama, apa yang telah kita ketahui kebenarannya berdasarkan apa yang ada pada kita, yang menjadi saksi atas kebenarannya, maka itulah yang benar.

Kedua, apa yang telah kita ketahui kedustaannya berdasarkan yang bertentangan dengan apa yang ada pada kita.

Ketiga, apa yang tidak ada penjelasannya, tidak yang pertama dan tidak pula yang kedua. Maka kita tidak membenarkannya dan tidak pula mendustakannya, dan boleh meriwayatkannya berdasarkan apa yang telah disebutkan sebelumnya.

Dan sebagian besar darinya tidak memiliki faedah yang kembali kepada perkara agama.


Tafsir Ibnu Katsir
(تفسير ابن كثير – ط العلمية)
Hal. 10 Edisi `Alamiyyah
وَلِهٰذَا يَخۡتَلِفُ عُلَمَاءُ أَهۡلِ الۡكِتَابِ فِي هٰذَا كَثِيرًا. وَيَأۡتِي عَنِ الۡمُفَسِّرِينَ خِلَافٌ بِسَبَبِ ذٰلِكَ، كَمَا يَذۡكُرُونَ فِي مِثۡلِ هٰذَا أَسۡمَاءَ أَصۡحَابِ الۡكَهۡفِ، وَلَوۡنَ كَلۡبِهِمۡ، وَعَدَدَهُمۡ، وَعَصَا مُوسَىٰ مِنۡ أَيِّ الشَّجَرِ كَانَتۡ، وَأَسۡمَاءَ الطُّيُورِ الَّتِي أَحۡيَاها اللّٰهُ لِإِبۡرَاهِيمَ، وَتَعۡيِينَ الۡبَعۡضِ الَّذِي ضُرِبَ بِهِ الۡقَتِيلُ مِنَ الۡبَقَرَةِ، وَنَوۡعَ الشَّجَرَةِ الَّتِي كَلَّمَ اللّٰهُ مِنۡهَا مُوسَىٰ، إِلَىٰ غَيۡرِ ذٰلِكَ مِمَّا أَبۡهَمَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ فِي الۡقُرۡآنِ مِمَّا لَا فَائِدَةَ فِي تَعۡيِينِهِ تَعُودُ عَلَى الۡمُكَلَّفِينَ فِي دِينِهِمۡ وَلَا دُنۡيَاهُمۡ.

wa lihādzā yakhtalifu `ulamā’u ahli al-kitābi fī hādzā katsīron. wa ya’tī `anil-mufassirīna khilāfun bisababi dzālika, kamā yadzkurūna fī mitsli hādzā asmā’a ashḥābi al-kahfi, wa launa kalbihim, wa `adadahum, wa `ashō mūsā min ayyi asy-syajari kānat, wa asmā’a ath-thuyūri allatī aḥyāhā allāhu li’ibrōhīma, wa ta`yīna al-ba`dhi alladzī dhuriba bihi al-qotīlu minal-baqoroti, wa naw`a asy-syajaroti allatī kallamallāhu minhā mūsā, ilā ghoiri dzālika mimmā abhamahullāhu ta`ālā fīl-qur’āni mimmā lā fā’idata fī ta`yīnihi ta`ūdu `alāl-mukallafīna fī dīnihim wa lā dunyāhum.

Oleh karena itu, para ulama Ahli Kitab banyak berselisih mengenai hal ini. Dari kalangan para mufassir pun muncul perselisihan disebabkan hal tersebut. Sebagaimana mereka menyebutkan dalam perkara semacam ini nama-nama para penghuni gua, warna anjing mereka, jumlah mereka, dari pohon apa tongkat Musa berasal, nama-nama burung yang Allah hidupkan kembali untuk Ibrāhīm, bagian tertentu dari sapi betina yang digunakan untuk memukul orang yang sudah mati (hidup kembali), jenis pohon yang Allah berbicara kepada Musa darinya, dan selain itu dari perkara-perkara yang Allah Ta`ala samarkan dalam Al-Qur’ān, yang detailnya tidak ada faedah untuk orang-orang mukallaf, baik dalam agama maupun dunia mereka.


Tafsir Ibnu Katsir
(تفسير ابن كثير – ط العلمية)
Hal. 10 Edisi `Alamiyyah
وَلٰكِنۡ نَقۡلُ الۡخِلَافِ عَنۡهُمۡ فِي ذٰلِكَ جَائِزٌ كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ:

﴿سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمۡ كَلۡبُهُمۡ، وَيَقُولُونَ خَمۡسَةٌ سَادِسُهُمۡ كَلۡبُهُمۡ رَجۡمًا بِالۡغَيۡبِ، وَيَقُولُونَ سَبۡعَةٌ وَثَامِنُهُمۡ كَلۡبُهُمۡ، قُلۡ رَبِّي أَعۡلَمُ بِعِدَّتِهِمۡ مَا يَعۡلَمُهُمۡ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمۡ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسۡتَفۡتِ فِيهِمۡ مِنۡهُمۡ أَحَدًا﴾ [الۡكَهۡفِ:٢٢]

walākin naqlu al-khilāfi `anhum fī dzālika jā’izun kamā qōla ta`ālā:

﴾sayaqūlūna tsalātsatun rōbi`uhum kalbuhum, wa yaqūlūna khomsatun sādisuhum kalbuhum rojman bil-ghoibi, wa yaqūlūna sab`atun wa tsāminuhum kalbuhum, qul robbī a`lamu bi`iddatihim mā ya`lamuhum illā qolīlun fa-lā tumāri fīhim illā mirō’an zhōhiron wa lā tastafti fīhim minhum aḥadan﴿ [al-kahfi:22]

Akan tetapi, menyampaikan perselisihan pendapat yang dinukil dari mereka mengenai hal tersebut adalah diperbolehkan, sebagaimana Allah Ta`ala berfirman:

Mereka akan berkata, “Mereka itu tiga orang, yang keempat adalah anjing mereka.” Dan mereka berkata, “Mereka itu lima orang, yang keenam adalah anjing mereka,” sebagai bentuk menerka-nerka perkara ghaib. Dan mereka berkata, “Mereka itu tujuh orang, dan yang kedelapan adalah anjing mereka.”

Katakanlah, “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali sedikit.” Maka janganlah engkau memperdebatkan tentang mereka kecuali dengan perdebatan yang lahiriah, dan janganlah engkau meminta fatwa mengenai mereka kepada seorang pun dari mereka. [Al-Kahfi:22]


Tafsir Ibnu Katsir
(تفسير ابن كثير – ط العلمية)
Hal. 10 Edisi `Alamiyyah
فَقَدِ اشۡتَمَلَتۡ هَذِهِ الۡآيَةُ الۡكَرِيمَةُ عَلَى الۡأَدَبِ فِي هٰذَا الۡمَقَامِ وَتَعۡلِيمِ مَا يَنۡبَغِي فِي مِثۡلِ هٰذَا، فَإِنَّهُ تَعَالَىٰ أَخۡبَرَ عَنۡهُمۡ بِثَلَاثَةِ أَقۡوَالٍ ضَعَّفَ الۡقَوۡلَيۡنِ الۡأَوَّلَيۡنِ وَسَكَتَ عَنِ الۡثَّالِثِ، فَدَلَّ عَلَىٰ صِحَّتِهِ إِذۡ لَوۡ كَانَ بَاطِلًا لَرَدَّهُ كَمَا رَدَّهُمَا، ثُمَّ أَرۡشَدَ عَلَىٰ أَنَّ الۡاِطِّلَاعَ عَلَىٰ عِدَّتِهِمۡ لَا طَائِلَ تَحۡتَهُ فَقَالَ فِي مِثۡلِ هٰذَا ﴿قُلۡ رَبِّي أَعۡلَمُ بِعِدَّتِهِمۡ﴾ فَإِنَّهُ مَا يَعۡلَمُ ذٰلِكَ إِلَّا قَلِيلٌ مِنَ النَّاسِ مِمَّنۡ أَطۡلَعَهُ اللّٰهُ عَلَيۡهِ، فَلِهٰذَا قَالَ: ﴿فَلَا تُمَارِ فِيهِمۡ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا﴾ أَيۡ لَا تُجۡهِدۡ نَفۡسَكَ فِيمَا لَا طَائِلَ تَحۡتَهُ وَلَا تَسۡأَلۡهُمۡ عَنۡ ذٰلِكَ فَإِنَّهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ مِنۡ ذٰلِكَ إِلَّا رَجۡمَ الۡغَيۡبِ.

faqod isytamalat hādzihi al-āyatul-karīmatu `alāl-adabi fī hādzā al-maqōmi wa ta`līmi mā yanbaghī fī mitsli hādzā, fa-innahu ta`ālā akhbaro `anhum bi-tsalātsati aqwālin dho“afa al-qoulaini al-awwalaini wa sakata `anits-tsālitsi, fa-dalla `alā shiḥḥatihi idz lau kāna bāthilan laroddahu kamā roddahumā, tsumma arsyada `alā anna al-iththilā`a `alā `iddatihim lā thō’ila taḥtahu faqōla fī mitsli hādzā ﴾qul robbī a`lamu bi`iddatihim﴿ fa-innahu mā ya`lamu dzālika illā qolīlun minaan-nāsi mimman athla`ahullāhu `alaihi, falihādzā qōla: ﴾fa-lā tumāri fīhim illā mirō’an zhōhiron﴿ ai lā tujhid nafsaka fīmā lā thō’ila taḥtahu wa lā tas’alhum `an dzālika fa-innahum lā ya`lamūna min dzālika illā rojma al-ghoibi.

Ayat yang mulia ini telah mencakup adab dalam perkara ini dan mengajarkan apa yang semestinya dilakukan dalam perkara semacam ini. Sesungguhnya Dia Ta`ala mengabarkan tentang mereka dengan 3 pendapat. Dia melemahkan 2 pendapat yang pertama, dan diam terhadap pendapat yang ketiga, sehingga hal itu menunjukkan kebenarannya. Sebab, seandainya pendapat itu bāthil, niscaya Dia akan membantahnya sebagaimana Dia membantah kedua pendapat sebelumnya.

Kemudian Dia memberikan petunjuk bahwa mengetahui jumlah mereka tidak memiliki manfaat yang berarti. Maka Dia berfirman dalam perkara semacam ini:

Katakanlah, “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka”.

Sebab, tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali sedikit dari manusia, yaitu orang-orang yang Allah memperlihatkan pengetahuan tersebut kepadanya.

Oleh karena itu, Dia berfirman,

Maka janganlah engkau memperdebatkan tentang mereka kecuali dengan perdebatan yang lahiriah,

yakni janganlah engkau memaksakan dirimu dalam perkara yang tidak memiliki manfaat yang berarti, dan janganlah engkau bertanya kepada mereka tentang hal itu, karena mereka tidak mengetahui mengenai hal tersebut kecuali dengan menerka-nerka perkara ghaib.


Tafsir Ibnu Katsir
(تفسير ابن كثير – ط العلمية)
Hal. 11 Edisi `Alamiyyah
فَهٰذَا أَحۡسَنُ مَا يَكُونُ فِي حِكَايَةِ الۡخِلَافِ: أَنۡ تَسۡتَوۡعِبَ الۡأَقۡوَالَ فِي ذٰلِكَ الۡمَقَامِ وَأَنۡ تُنَبِّهَ عَلَى الصَّحِيحِ مِنۡهَا وَتُبۡطِلَ الۡبَاطِلَ وَتَذۡكُرَ فَائِدَةَ الۡخِلَافِ وَثَمَرَتَهُ لِئَلَّا يَطُولَ النِّزَاعُ وَالۡخِلَافُ فِيمَا لَا فَائِدَةَ تَحۡتَهُ، فَتَشۡتَغِلَ بِهِ عَنِ الۡأَهَمِّ فَالۡأَهَمِّ.

fahādzā aḥsanu mā yakūnu fī ḥikāyatil-khilāfi: an tastaw`iba al-aqwāla fī dzālika al-maqōmi wa an tunabbiha `alā ash-shoḥīḥi minhā wa tubthila al-bāthila wa tadzkuro fā’idatal-khilāfi wa tsamarotahu li’allā yathūla an-nizā`u wa al-khilāfu fīmā lā fā’idata taḥtahu, fa-tasytaghila bihi `anil-ahamm fa-al-ahamm.

Maka inilah cara yang paling baik dalam menyebutkan perselisihan pendapat: engkau mencakup seluruh pendapat dalam perkara tersebut, menjelaskan mana yang benar diantaranya, membatalkan yang bāthil, serta menyebutkan manfaat dan hasil dari perselisihan tersebut, agar perdebatan dan perselisihan tidak menjadi panjang dalam perkara yang tidak memiliki manfaat, sehingga engkau tersibukkan dengannya dari perkara-perkara yang lebih penting.


Tafsir Ibnu Katsir
(تفسير ابن كثير – ط العلمية)
Hal. 11 Edisi `Alamiyyah
فَأَمَّا مَنۡ حَكَىٰ خِلَافًا فِي مَسۡأَلَةٍ وَلَمۡ يَسۡتَوۡعِبۡ أَقۡوَالَ النَّاسِ فِيهَا فَهُوَ نَاقِصٌ إِذۡ قَدۡ يَكُونُ الصَّوَابُ فِي الَّذِي تَرَكَهُ، أَوۡ يَحۡكِي الۡخِلَافَ وَيُطۡلِقُهُ وَلَا يُنَبِّهُ عَلَى الصَّحِيحِ مِنَ الۡأَقۡوَالِ فَهُوَ نَاقِصٌ أَيۡضًا، فَإِنۡ صَحَّحَ غَيۡرَ الصَّحِيحِ عَامِدًا فَقَدۡ تَعَمَّدَ الۡكَذِبَ، أَوۡ جَاهِلًا فَقَدۡ أَخۡطَأَ، وَكَذٰلِكَ مَنۡ نَصَبَ الۡخِلَافَ فِيمَا لَا فَائِدَةَ تَحۡتَهُ أَوۡ حَكَىٰ أَقۡوَالًا مُتَعَدِّدَةً لَفۡظًا وَيَرۡجِعُ حَاصِلُهَا إِلَىٰ قَوۡلٍ أَوۡ قَوۡلَيۡنِ مَعۡنًى فَقَدۡ ضَيَّعَ الزَّمَانَ وَتَكَثَّرَ بِمَا لَيۡسَ بِصَحِيحٍ فَهُوَ كَلَابِسِ ثَوۡبَيۡ زُورٍ، وَاللّٰهُ الۡمُوَفِّقُ لِلصَّوَابِ.

fa-ammā man ḥakā khilāfan fī mas’alatin wa lam yastaw`ib aqwālan-nāsi fīhā fa-huwa nāqishun idz qod yakūnu ash-showābu fī alladzī tarokahu, au yaḥkī al-khilāfa wa yuthliquhu wa lā yunabbihu `alā ash-shoḥīḥi minal-aqwāli fa-huwa nāqishun aidhon, fa-in shoḥḥaḥa ghoiro ash-shoḥīḥi `āmidan faqod ta`ammadal-kadziba, au jāhilan faqod akhtho’a, wa kadzālika man nashoba al-khilāfa fīmā lā fā’idata taḥtahu au ḥakā aqwālan muta`addidatan lafzhon wa yarji`u ḥāshiluhā ilā qoulin au qoulaini ma`nan faqod dhoyya`a az-zamāna wa takatstsaro bimā laisa bishoḥīḥin fa-huwa kalābisi tsaubai zūrin, wallāhu al-muwaffiqu lish-showābi.

Adapun orang yang menyebutkan suatu perselisihan pendapat dalam sebuah masalah, tetapi tidak mencakup seluruh pendapat manusia dalam masalah tersebut, maka ia kurang sempurna, karena bisa jadi kebenaran terdapat pada pendapat yang ia tinggalkan.

Atau ia menyebutkan perselisihan pendapat dan membiarkannya begitu saja tanpa menjelaskan mana pendapat yang benar, maka ia juga kurang sempurna. Jika ia sengaja membenarkan pendapat yang tidak benar, berarti ia sengaja berdusta. Atau jika karena ketidaktahuan, maka ia telah melakukan kesalahan.

Demikian pula orang yang mengemukakan perselisihan dalam perkara yang tidak memiliki manfaat, atau menyebutkan beberapa pendapat secara lafaz, sementara hakikat maknanya kembali kepada satu atau dua pendapat, maka ia telah menyia-nyiakan waktu dan memperbanyak sesuatu yang tidak benar. Maka ia seperti orang yang mengenakan 2 pakaian kepalsuan. Dan Allah-lah yang memberikan taufik kepada kebenaran.